08 Dec

REVIEW FILM THE EXPENDEBLES 3

  1. Alur Cerita

Alur cerita The Expendibles 3 ini dimulai dari operasi pembebasan mantan anggotanya seorang ahli pisau bernama Doctor Death di sebuah kereta, dibawah komando Barney Ross , The Expendables yang beranggotakan Lee Christmas, Gunnar Jensen, dan Toll. Mereka berhasil membebaskan Doc. Namun masalah tidak berhenti disana, karena saat menjalankan tugas mereka di Somalia untuk menangkap tokoh pelanggara HAM Internasional , The Expendables menemukan fakta yang mengejutkan bahwa pengkhianat mereka bernama Conrad Stonebanks masih hidup. Kekuatan Stonebanks cukup besar, ia bahkan mampu membuat The Expendables mundur dari peperangan. Bahkan dalam peperangan tersebut salah satu anggotanya terluka. Hal tersebut membuat Barney memutuskan untuk membubarkan Tim Expendables yang dirasa sudah tua sehingga perlu penyegaran dengan merekrut anggota yang masih muda. Pada sesi pengenalan tim muda ini diperlihatkan Barney dengan ditemani officer CIA Drummer menyeleksi tim baru dengan melihat keunikan dan keahlian karakter masing-masing. Selanjutnya diceritakan penyerbuan ke sarang stonebanks namun berhasil lolos bahkan keempat tim muda ini berhasil ditangkap oleh kelompok stonebanks. Pada saat ini akhirnya ada seorang yang sebelumnya ditolak pada saat perekrutan akhirnya diperbolehkan ikut serta yaitu Galgo dengan gayanya yang kocak. Tim tua tidak rela melepas Barney Ross berangkat sendiri membebaskan anggota “Expendables”muda. Sehingga akhirnya Drummer, Trench, Yin Yang ikut serta dalam penyelamatan tim muda Terakhir adalah pesta kemenangan dimana kedua generasi “Expendables” bersatu setelah bahu membahu mengalahkan gerombolan Stonebanks. Dan di sini pun Barney mengevaluasi karakter masing-masing anggota baru di dalam kinerja tim “Expendables”,

  1. Tokoh Pilihan

Secara keseluruhan tokoh-tokoh yang ada dalam The Expendebles merupakan tokoh tokoh yang hebat. Namun yang akan dikaji lebih dalam adalah Galgo yang diperankan oleh Antonio Banderas. Galgo dengan gaya khas budaya hispaniknya cukup menarik untuk dibahas. Mengapa Galgo berperilaku kocak?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kembali pada teori perilaku, bahwa faktor yang menentukan perilaku manusia ada 3, yaitu:

  • Cognitif Factor (Personal Factor), yaitu faktor-faktor yang timbul dari dalam individu seperti: pengetahuan, harapan dan sikap (attitude).
  • Environment Factor (Faktor Lingkungan), yaitu faktor-faktor yang timbul dari luar individu seperti: Norma sosial, Komunitas , pengaruh pada yang lain (kemampuan lingkungan dalam mempengaruhi)
  • Faktor Perilaku : Skills, practice dan kemampuan pengaturan diri individu

Sikap Galgo yang kocak, banyak bicara dan cenderung atraktif dipengaruhi oleh faktor personalnya yaitu harapan besarnya ingin bergabung dengan Tim Expendables. Galgo adalah mantan personel Angkatan Bersenjata Spanyol yang makan asam garam pertempuran dalam konflik Bosnia, dan di masa lalunya semua temannya meninggal hanya Galgo saja yang selamat. Dia berupaya dengan keras meyakinkan Barney bahwa dirinya benar-benar ingin dan mampu bergabung dalam tim Expendables. Pada saat perekrutan digambarkan Galgo bekerja pada sebuah pabrik, namun karena itu hanya “pelarian “ saja untuk menghilangkan kesedihannya ditinggal mati oleh teman-temannya maka ketika lingkungan yang baru itu tidak membuatnya merasa nyaman maka Galgo ingin kembali ke dunia nya yang akrab dengan senjata dan pertempuran. Artinya lingkungan pabrik tersebut mempengaruhi Galgo untuk keluar dari sana. Dari faktor perilaku, Galgo digambarkan memiliki skill bela diri yang baik namun dengan kekonyolannya dia tidak diterima sebagai tim baru expedables. Namun keinginan yang kuat akhirnya Galgo berhasil meyakinkan Barney yang sedang “galau” karena tim expendables muda tertawan oleh musuhnya. Galgo diperbolehkan ikut dalam pembebasan Tim Muda.

  1. Teori Perubahan Perilaku

 Menurut (Ellis, Albert & Dryden, 1997), manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkah laku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkah laku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Gaya Galgo yang khas hispanik menunjukan budaya orang Spanyol. Reaksi keceriaan Galgo menunjukan dia berusaha menutupi kesedihannya karena kehilangan teman-temannya. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Activating event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

Activating event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Disputing (D), terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu: 1) Detecting irrational beliefs Konselor menemukan keyakinan klien yang irasional dan membantu klien untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri. 2) Discriminating irrational beliefs Biasanya keyakinan irasional diungkapkan dengan kata-kata: harus, pokoknya atau tuntutan-tuntutan lain yang tidak realistik. Membantu klien untuk mengetahui mana keyakinan yang rasional dan yang tidak rasional. 3) Debating irrational beliefs Beberapa strategi yang dapat digunakan:

  • The lecture (mini-lecture), memberikan penjelasan.
  • Socratic debate, mengajak klien untuk beradu argumen.
  • Humor, creativity seperti: cerita, metaphors, dll.
  • Self-disclosure: keterbukaan konselor tentang dirinya (kisah konselor, dll)
  1. Kaitan dengan Marketing

Galgo berhasil meyakinkan Barney dari yang semula ditolak menjadi diterima dalam Tim Expendable. Ini menunjukan Galgo memiliki komunikasi marketing yang bagus. Dalam hal ini Galgo memiliki Personal communications (komunikasi personal) yang menunjang dalam marketing. Penjualan perorangan didefinisikan sebagai presentasi promosi penjualan yang dilakukan dari orang ke orang lain sebagai pembeli (Boone LE, 2001). (Kotler, 2012) mendefinisikan penjualan perorangan sebagai presentasi perorangan oleh kekuatan penjualan perusahaan untuk membuat penjualan dan membangun hubungan dengan pelanggan. Personal selling adalah situasi pembelian dimana dua orang berkomunikasi dimana satu sama lain saling berpengaruh.(McDaniel C, 2006). (Winardi, 2001) menyebutkan bahwa dalam personal selling, tenaga penjual diharapkan dapat menciptakan, memodifikasi dan mengeksploitasi atau mengusahakan terjadinya suatu hubungan pertukaran yang saling menguntungkan. Menciptakan, berarti tenaga penjual harus mencari calon pembeli untuk terjadinya suatu transaksi. Memodifikasi, berarti setelah terjadinya pertukaran antara penjual dengan pembeli harus diikuti dengan usaha melanggengkan hubungan baik yang telah terjalin. Mengeksploitasi artinya dalam hubungan tersebut harus dapat dimanfaatkan terjadinya pertukaran secara berkesinambungan dan saling menguntungkan kedua belah pihak Dengan demikian tenaga penjual harus dapat memberikan kesan baik terhadap para langganan. Personal selling dalam pelaksanaannya lebih fleksibel dibandingkan dengan metode promosi lainnya, karena dalam personal selling tenaga penjual dapat mengadakan penyesuaian seperlunya. Selanjutnya dengan personal selling, kegiatan promosi yang tidak perlu dapat mengadakan penyesuaian seperlunya. Selanjutnya dengan personal selling, kegiatan promosi yang tidak perlu dapat terhindari karena sasaran penjualan telah ditetapkan. Disamping itu tenaga penjual juga dapat berperan sebagai pemberi informasi mengenai sikap, perilaku dan keadaan pasar lainnya yang berhubungan dengan produk perusahaan sekaligus kondisi persaingan yang sedang terjadi. Galgo juga mengajarkan bahwa kejujuran itu penting, pada awalnya dia menyembunyikan “statusnya”, namun pada akhirnya dia terbuka pada Barney sehinga akhirnya diterima dalam timnya.

  1. Kesimpulan

Galgo merepresentasikan seorang personal selling yang baik karena berhasil mempengaruhi Barney. Seorang penjual harus bisa mengkomunikasikan dengan baik maksudnya serta menguasai produk yang dijual (dalam hal ini kepiawaian Galgo dalam pertempuran). Kejujuran menjadi hal yang penting dalam personal selling. Dengan berkata jujur maka dalam bisnis akan muncul peluang terjadi pembelian ulang. DAFTAR PUSTAKA Boone LE, K. D. (2001). No Title. In Contemporary Marketing, 10th Edition, Southwestern,. Ellis, Albert & Dryden, W. (1997). The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. Kotler, P. (2012). Kotler on marketing. Simon and Schuster. McDaniel C, L. C. J. H. J. J. (2006). Introduction to Marketing, Eighth edition. Winardi, J. (2001). Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE