09 Dec

The Differential Association Between Change Request Qualities and Resistance, Problem Resolution, and Relationship Satisfaction.

Danielle M. Mitnick, Richard E. Heyman, Jill Malik, and Amy M. Smith Slep, Stony Brook, University, State University of New York, Journal of Family Psychology, 2009, Vol. 23, No. 4, 464–473

Menurut banyak teori tentang hubungan dekat (close relationship) seperti attachment theory dan social exchange theory, orang-orang termotivasi untuk terlibat dalam suatu hubungan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhannya.selama menjalani hubungan yang intim, kebutuhan setiap patner terus berubah, sehingga mengkomunikasikan keinginan yang berkembang ini meningkatkan kemungkinan kebutuhan terseut akan terpenuhi, dengan demikian akan memaksimalkan keuntungan dalam hubungan. Namun. Mengkomunikasikan kebutuhan tidak menjamin pemenuhannya, sifat hubungan dekat yang diad menciptakan situasi dimana memaksimalkan keuntungan salah satu patner mungkin bisa merugikan patner yang lainnya. Oleh karena itu, patner lain mungkin merespon negatif terhadap permintaan berubah, yang pada gilirannya akan menyebabkan konflik. Mengelola konflik (managing conflict) dikenal sebagai proses yang rumit yang mempunyai pengaruh yang signifikan pada perjalanan dan kondisi hubungan. Permintaan untuk berubah sering menjadi awal dari proses ini dan setiap permintaan untuk berubah memberikan pasangan/patner sebuah kesempatan baru untuk merespon. Meminta salah satu patner untuk berubah kemudian menjadi proses sentral dalam hubungan, meminta berubah dalam sebuah cara yang menfasilitasi perolehan penyelesaian masalah menjadi penting untuk kesuksesan hubungan. Akan tetapi, hal tersebut merupakan awal dari rangkaian proses yang sebagian besar diabaikan. Meskipun awal dari percakapan yang negatif dalam valensi telat dikaitkan dengan percakapan dan outcome hubungan yang buruk, pemahaman yang lebih spesifik tentang bagaimana untuk meminta berubah yang paling baik misalnya meminta dengan awal mula yang lembut atau “softer start-up” mungkin menghasilkan respon non negatif daripatner. Menentukan cara yang optimal untuk memulai proses ini, karena bertentangan fokusnya pada dinamika dalam konflik, mungkin menawarkan kekuatan yang lebih untuk intervensi yang bermakna.

Meskipun proses permintaan perubahan ini penting, dasar empiris untuk apa yang dimaksud dengan permintaan yang efektif masih sedikit. Sebaliknya penelitian berfokus pada proses konflik secara keseluruhan, dan sebgian besar memusatkan perhatiannya pada perubahan yang diinginkan sebagai penanda konflik yang belum terselesaikan, yang dapat digunakan untuk mengamati proses konflik. Para peneliti sering menilai terkait permintaan perubahan baik melalui kuisioner maupun wawancara. Penilaian ini digunakan untuk mendapatkan topik dari percakapan penyelesaian masalah yang direkam untuk mengamati pasangan-pasangan yang berkonflik,namun tidak ada yang berfokus secara spesifik pada berbagai cara pasangan meminta pasangannya berubah dan pengaruh diferensialnya. Sebagai hasilnya, kita hanya sedikit mengetahui tentang bagaimana cara meminta untuk berubah akan mendorong adanya suatu kedekatan, penyelesaian masalah yang efektif serta kepuasan dalam hubungan.

Penelitian yang ada saat ini bukannya mencoba untuk menemukan cara yang efektif terkait permintaan perubahan, namun hanya menjelaskan kemungkinan gejala sisa yang negatif dari proses ini ketika tidak berjalan efektif. Permintaan berubah secara langsung dan tersirat telah dioperasionalisasikan sebagai permintaan yang dapat memicu penarikan diri dan atau defensif.

Penelitian sebelumnya masih terdapat perbedaan hasil sehingga meninggalkan implikasi yang didukung secara empiris yang belum terselesaikan. Di satu sisi, penelitain menyarankan bahwa pasangan harus membuat permintaan untuk berubah secara eksplisit terhadap pasangannya agar hubungannya lebih dekat dan lebih puas. Di sisi lain, penelitian juga menyarankan bahwa permintaan untuk berubah dapat mengarah pada peneraikan diri dan penolakan dari pasangan, kemerosotan hubungan dan perceraian. Namun, penelitian tersebut mengabaikan variasi permintaan.

Penelitian ini berfokus pada identifikasi kualitas permintaan berubah yang mempunyai dampak yang berbeda pada penarikan diri atau penolakan dan hubungan yang berbeda pada resolusi masalah dan kepuasan hubungan.

Hipotesis:

  1. Permintaan berubah yang spesifik akan menghasilkan sedikit penolakan daripada permintaan berubah yang tidak jelas.
  2. Permintaan yang menggunakan kata ganti “kita” (e.g. we butuh harus mulai memberi perhatian lebih kepada anak-anak) sebagai lawan dari kata ganti “kamu” (e.g.kamu harus lebih memperhatikan anak-anak) akan menghasilkan sedikit penolakan dari si penerima dan percakapan dengan rasio penggunaan kata ganti “kita” yang lebih banyak daripada “kamu” pada permintaan perubahan akan terkait dengn resolusi permasalahan yang lebih baik dan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi.
  3. Permintaan untuk meningkatkan perilaku (menggunakan kata-kata “lakukan” atau “do”) akan bertemu dengan penolakan yang lebih rendah oleh pasangan daripada permintaan terhadap penurunan perilaku (“jangan lakukan” atau “don’t”) dan percakapan dengan rasio “lakukan” atau “do” pada permintaan daripada “jangan lakukan” atau “don’t” akan terkait dengan resolusi masalah yang lebih baik dan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi.

 

Metode:

Partisipan:

Partisipan dalam penelitian ini adalah 453 pasangan (906 individu) yang sudah tinggal bersama minimal 1 tahun, dan mengasuh anak antara 3-7 tahun serta mempunyai anak biologis minimal 1 dan lancar berbahasa inggris. Partisipan didapat melalui random digit dialing of numbers di Suffolk country, New York. Para asisten peneliti menghubungi 229,106 nomor telpon unik dan 12,009 individu yang menyetujui untuk menjawab minimal 1 pertanyaan. Responden-responden tersebut disaring untuk krieria kelayakan dengan survei telepon yang menilai karakteristik demografi dan keluarga yang berfungsi variabel. Dari 1335 partisipan yang layak dan menarik yang kemudian dikontak kembali dan diundang untuk berpartisipasi, 453 pasangan berpartisipasi dan dibayar $250 untuk melengkapi protokol 6 hari. Untuk proyek ini, percakapan pasangan yang dipilih secara acak ditandai.

Prosedur:

Partisipan di ceritakan bahwa mereka berpartisipasi dalam studi tentang bagaimana keluarga menyelesaikan konflik. Partisipan masuk ke lab selama 6 jam, selama di lab mereka melengkapi kuisioner tentang diri mereka sendiri, hubungan mereka dengan pasangan dan keluarganya, menjalani pantauan fisiologis terhada rangsangan yang distandarisasi dan menyelesaikan diskusi konlik. Dalam persiapan untuk rekaman vidio partisipan melengkapi kuisioner yang meminta mereka untuk membuat daftar topik diantaranya:

  1. Mereka inginkan dari patner untuk dilakukan, untuk melakukan hal yang berbeda atau untuk berubah
  2. Topik yang penting bagi mereka
  3. Topik yang mereka diskusikan di masa lalu
  4. Topik yang belum mereka selesaikan.

Kemudian peneliti memilih topik yang paling penting bagi si suami dan istri sebagai subjek dari dua percakapan selama masing-masing 10 menit. Topik yang dipilih tersebut kemudian dibagikan kepada orang tersebut untuk didiskusikan di ruang rekaman vidio selama sepuluh menit untuk setiap percakapan. Pasangan dibawa bersama dari ruangan terpisah ke ruang rekaman dimana mereka akan berdiskusi tentang topik tersebut selama 10 menit. Prosedur ini diulang untuk percakapan yang kedua. Untuk topik suami dan istri ditentukan secara acak. Setelah partisipan melengkapi dua percakapan tersebut, mereka dibayar.

Pengukuran:

Untuk mengukur kualitas permintaan untuk berubah diukur menggunakan The Request fo Change Coding System (RCCS) yang dikembangkan oleh peneliti sendiri. Untuk menilai kualitas hubungan menggunakan The Dyadic Adjustment Scale dengan 32 item yang diukur menggunakan 7 skala likert. The Global Assessment of Problem Solving digunakan untuk menilai tingkat pencapaian penyelesaian masalah dalam 10 menit interaksi pasangan yang terdiri dari 6 item menggunakan 4 skala likert dimana 1 (tidak terselesaikan) samai 4 (cukup baik/ benar-benar diselesaikan).

Hasil:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa baik permintaan sang istri atau suami yang dibingkai dengan “you” atau “kamu”akan meningkatkan kemungkinan resistensi atau penolakan dari patner. Permintaan terkait meningkatkan perilaku/ menggunakan kata “do” atau yang terkait menurunkan perilaku/ menggunakan kata “don’t” mempunyai pengaruh yang berbeda yaitu permintaan dari istri untuk menurunkan perilaku dan permintaan dari suami untuk meningkatkan perilaku akan memunculkan kemungkinan resistensi atau penolakan. Hanya permintaan dari istri yang mennggunakan kata ganti “we” atau “kita” yang bisa menekan penolakan atau resistensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE